Showing posts with label Kisah Inspiratif. Show all posts
Showing posts with label Kisah Inspiratif. Show all posts

Saturday, October 17, 2015

Peran Bunda Shalehah dibalik Para Imam Madzhab


Imam Mahzab adalah seorang ulama besar dimana menjadi rujukan ulama-ulama beberapa generasi, karena kedalaman ilmu, hafalannya yang kuat, dan keshalihannya yang terkenal didepan Umat mereka bukan ulama sembarangan yang mudah muncul sepanjang zaman, karena besar kealimannya dan keteguhannya memegang Agama. Bicara Imam Mahzab, seperti halnya disini Imam Syafi'ie yang dijadikan rujukan kebanyakan umat Islam Indonesia, nah sekarang yang kita kaji ialah bagaimana mereka menjadi manusia hebat ?
Ternyata ada peran besar Bunda yang shaleh dibalik pendidikannya, Bunda shaleh bila menjadi tiang negara maka negara akan kokoh. Namun berbeda kalau dengan bunda yang salah.
Sang penulis buku ialah Ulama Dari Kuwait , Dr Tariq Suwaidan penulis Biografi 4 Imam Mazhab menuliskan Kisah besarnya peran seorang ibu bagi proses Pendidikan Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad.

( Ibu Imam Malik )
Pada Masa Kecilnya Imam Malik Memiliki kecenderungan kepada seni. Ibunyalah yang telah membuat Imam Malik meninggalkan dunia lagu dan musik beralih kedunia ilmu hingga akhirnya menjadi Ulama Fiqih yang ilmunya terus bermanfaat hingga saat ini.
Imam Malik Menuturkan :
Pada Masa kecilku,aku sangat menyukai para penyanyi. Ibuku tahu aku sangat gandrung dengan nyanyian, tapi ia merasa bahwa teladan yang kuidamkan tidak tepat dan tidak benar. Ia pun memalingkan aku dari lagu-lagu itu. ia berpesan, “Seorang penyanyi, jika ia buruk rupa, maka lagunya tidak akan dilihat dan didengarkan. Karena itu tinggalkanlah lagu dan tuntulah ilmu fikih!”
Imam Melanjutkan :
Aku pun akhirnya meninggalkan para penyanyi itu dan mengikuti para fukaha sehinggal Allah mewujudkan cita-citaku seperti sekarang.
Pada suatu hari ibuku datang membawakan pakaian kebesaran para ulama.ia mengenakanya untukku dan memasanggkan kopiah di kepalaku. Ia memasangkan balutan di kopiah itu, lalu menarikku seraya berkata, “Sekarang, pergilah!” Ia menunjukkan kepadaku seorang Ulama.
Ternyata Pendidikan seorang ibu sang imam tidak hanya sebatas memotivasi anaknya untuk menjadi Ulama, bahkan sang ibu juga memberikan pengarahan dalam proses Pendidikan sang Imam.
Sang Ibu Berpesan kepada Imam Malik, “Pergilah ke tempat Rabi’ah, pelajari akhlaknya sebelum kau mempelajari ilmunya.” Sungguh pengarahan yang luar biasa dari seorang ibu yang mulai. Ia paham bahwa sang anak harus mengutamakan akhlak di atas ilmu.

( Imam Syafii dan Ibu yang Cerdas )
Ibunda Imam Syafi’I adalah seorang Ahli ibadah yang cerdas. Kecerdasan Beliau tampak ketika ia menjadi salah seorang saksi di pengadilan Makkah bersama seorang saksi perempuan lain dan seorang saksi laki-laki. Ketika hakim ingin memisahkan antara kesaksian dua orang perempuan tersebut. Akan tetapi, ibunda imam Syafi’I berseru, “ Kau tidak layak melakukan hal itu karena Allah telahberfirman, Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang laki (diantara kalian). Jika tak ada dua orang lelaki maka boleh seorang laki-laki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kalian ridai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkanya ( Al-Baqarah : 282).” Akhirnya sang hakim menarik kembali pendapatnya.
Peran Ibunda Imam Syafi’I terhadap dirinya sangatlah besar. Seperti Imam Malik , Imam Syafi’I juga mendapat banyak pengarahan dari sang ibu dalam hal menuntutilmu. Ibunya selalu membimbing Syafi’I untuk terus mearih ilmu dengan mengirimnya dari Gahaza ke Makkah.Sang ibu mengirim Syafi’I agar dapat hidup tidak jauh dari pusat ilmu kala itu.
Ibunda Syafi’I juga menyiapkan seluruh perbekalan perjalanan sang imam menuju Makkah. Dikisahkan oleh Al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, Syafi’I pernah berkata, “Ibuku Mempersiapkan segalanya untuk perjalananku ke Makkah. Aku pun berangkat kesana. Ketika itu aku masih berumur sekitar sepuluh tahun. Aku menetap dirumah salah seorang kerabatku dan mulai menuntut ilmu di sana.” Kondisi Imam Syafi’I yang tumbuh dalam keadaan yatim, menjadikan sang Ibu adalah Murabbi pertamanya.

( Prioritas Ibu Imam Ahmad )
Ibu Imam Ahmad bernama Shafiyyah. Shafiyyah sangat memperhatikan putra yatimnya, Ahmad. Shafiyyah memilih tetap menjanda pada usianya yang terbilang muda demi mengasuh Ahmad. Pada saat itu mayoritas perempuan Arab bila ditinggal mati suaminya, cenderung untuk menikah lagi demi menjaga kehormatan dan nama baiknya. Bahkan sudah menjadi tradisi wanita ditinggal mati suami atau dicerai , harus segera menikah lagi. Tetapi berbeda dengan mayoritas perempuan Arab. Shafiyyah bertekad untuk totalitas mengasuh putranya yang kelak akan menjadi Imam Besar Sepanjang Zaman. Ketika ditinggal Suami , Shafiyyah masih berusia 30 Tahun.
Kasih sayang dan perhatian penuh yang diberikan oleh sang ibu, telah mendidik Ahmad tumbuh menjadi seorang Pemuda yang berbakti kepada orang tuanya. Pernah suatu ketika Ahmad menolak menyebrangi sungai Tigris untuk sekedar menerima hadis bersama teman-temanya dari Jarir ibn AbdulHamid, Ulama Ahli rakyu. Saat teman-temanya mengajaknya, Ahmad mengatakan “Ibuku tidak mengizinkanku melakukannya.” Padahal, ketika itu umur Ahmad sudah 22 tahun.
Dalam Menuntut Ilmu Ahmad selalu mengutamakan mendapat ridha dari sang ibu. Karena beliau tahu mendapatkan Ridha sang Ibu adalah sunnah Rasulnya. 

Dari Abdullah bin ‘Amr beliau berkata; Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda; Ridha Allah pada ridha orangtua dan murka Allah pada murka orangtua. (HR. Al-Baihaqi)
Kehebatan para Imam Madzhab ternyata tak lepas dari kehebatan Murabbi mereka yaitu, kontribusi para ibunda. Karena ibu adalah madrasah pertama pendidikan seorang anak. Kita dapat mengambil pelajaran dari ibu para imam bagaimana mendidik seorang anak. Seperti imam Malik & Imam Syafi’i yang diberi arahan oleh sang ibu dalam menuntut ilmu. Mereka dipersiapkan perbekalanya dalam mengarungi samudra ilmu yang sangat luas. Seorang ibu juga harus memberikan prioritas hidupnya mendidik sang anak layaknya ibu Imam Ahmad. karena setiap ibu harus paham, mendidik anak bukanlah sambilan tetapi keutamaan.
Sudah sepantasnya seluruh umat Islam mulai memperhatikan peran ibu dalam mendidik sang anak. Pengadaan sekolah calon ibu, sekolah pra Nikah yang mulai gencar saat ini adalah suatu kemajuan yang patut disyukuri dan ditindak lanjuti. Seperti apa yang penulis tuliskan diawal “Pendidikan di sekolah hanyalah sementara , sedangkan pendidikan dari seorang ibu adalah selamanya.”

Friday, July 17, 2015

Habibie, Pribadi yang Inspiratif

Sejak berumur lima tahun silam, Bacharuddin Jusuf Habibie kerap terpesona jika melihat karya manusia. Entah itu alat transportasi seperti sepeda, mobil, sampai prasarana transportasi seperti jembatan dan sebagainya.

Diam-diam dalam benaknya selalu bertanya-tanya mengapa, sebab, dan bagaimana bisa terjadi. Pertanyaan itu terus meneror kesadarannya, hingga mendorong dirinya menjadi manusia dengan rasa keingintahuan yang tinggi.

Dia kerap bertanya tentang apapun di luar sepengetahuannya. Kepada siapa pun di dekatnya, dia selalu bertanya. Hingga tiba saat ayahnya mulai bosan pada hobi bertanya Habibie. Akhirnya ayahnya membelikan buku. Dari sanalah jawaban atas berbagai pertanyaan dijelajahinya.

Namun pertanyaan-pertanyaan akhirnya berkembang menjadi kompleks dan meningkat jumlahnya. Sehingga kebiasaan saya bertanya sudah sampai pada tingkat mengganggu kesibukan orang tua dan guru saya, kenang BJ Habibie seperti dikutip dari buku Biografi Bacharuddin Jusuf Habibie; Dari Ilmuwan ke Negarawan sampao Minandito, A Makmur Makka.

BJ Habibie terpaksa mencari sendiri jawabannya dalam buku. Kebiasaan yang demikian menjadikan saya sebagai kutu buku. Akibatnya dia sering menghabiskan waktu untuk menyendiri untuk terus beranalisis, tak berhenti berpikir.

Untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan, saya selalu didampingi oleh guru pribadi yang setia, yaitu otak saya! Ibu, ayah, keluarga, guru sekolah, guru besar di universitas, para ilmuwan, dan sebagainya saya anggap sebagai pembantu guru pribadi saya saja, ucapnya.

Bukan hanya kebiasaan bertanya, Habibie berani konsisten dalam memanajemen waktunya. Dia hanya membutuhkan waktu untuk tidur sebanyak lima jam saja. Sedangkan waktunya dua jam dipergunakan untuk salat. Satu setengah jam untuk rutinitas membaca Yasin dan Tahlil. Kemudian dua jam untuk berenang dan mandi.

Sedangkan tiga jam dihabiskan untuk makan. Tiga jam lainnya ia manfaatkan untuk berbincang dengan para tamunya. Sehingga sisanya sebanyak tujuh setengah jam, dipergunakannya untuk membaca atau menulis.

Selain itu, BJ Habibie selalu mengingatkan bahwa kekuatan rantai ditentukan oleh keunggulan mata rantai terlemah.

Kesimpulannya ialah, kualitas suatu produk ditentukan oleh mutu tiap detail. Sebab kualitas karya dan kualitas kerja ditentukan oleh kualitas rinci.
Maka dari itu berpikirlah secara rinci dan positif. Di sisi lain BJ Habibie selalu ingin menjadi pribadi kreatif dan inovatif.