Showing posts with label Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Ramadhan. Show all posts

Thursday, July 16, 2015

Do’a Rasulullah di Akhir Ramadhan


Sahabat Muslimin, hari ini merupakan hari terakhir Ramadhan.
Buatlah kenangan dan perbanyaklah do’a.

Doa Rasulullah saw di akhir Ramadhan,
"Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan puasa ini sebagai puasa yang terakhir dalam hidupku. Seandainya Engkau menetapkan sebaliknya, maka jadikanlah puasaku ini sebagai puasa yang dirahmati, bukan puasa yang sia-sia."
"Seandainya masih ada padaku dosa yang belum Engkau ampuni atau dosa yang menyebabkan aku disiksa karenanya, sehingga terbitnya fajar malam ini atau sehingga berlalunya bulan ini, maka ampunilah semuanya wahai Dzat Yang Paling Pengasih dari semua yang mengasihi."
"Ya Allah! Terimalah puasaku dengan sebaik-baik penerimaan, perkenan, kemaafan, kemurahan, pengampunan dan keridhaan-Mu. Sehingga Engkau memenangkan aku dengan segala kebaikan, segala anugerah yang Engkau curahkan di bulan ini."
"Selamatkanlah aku dari bencana yang mengancam atau dosa yang berterusan. Demikian juga, dengan rahmat-Mu masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan (keutamaan) di Lailatul-Qadar. Malam yang telah Engkau tetapkan lebih baik dari seribu bulan."
"Semoga perpisahanku dengan bulan Ramadhan ini bukanlah perpisahan untuk selamanya dan bukan juga pertemuan terakhirku. Semoga aku dapat kembali bertemu dgn Ramadhan mendatang dalam keadaan penuh harapan dan kesejahteraan."
" Aamiin aamiin Yaa Mujiibas-Saailiin"

Sekian dari kami, semoga bermanfaat.

Wednesday, July 15, 2015

Hikmah dan Keutamaan Sahur


Sahur hukumnya sunnah, demikian menurut ijma' ulama sebagaimana dinyatakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari IV/139.

Adapun diantara hikmah disyariatkannya sahur adalah sebagai pembeda antara cara puasa kaum muslimin dengan cara puasa ahli kitab.

عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ فَصْلَ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ ».

"Dari Amru bin Ash Radhiyallahu 'anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya yang membedakan antara puasa kita dan puasanya orang-orang ahli kitab adalah makan sahur." (HR. Nasa'i No 2166, dishahihkan oleh Albani)

Orang yang melaksanakan makan sahur tentu secara fisik akan lebih kuat menahan lapar daripada orang yang tidak sahur. Dan orang yang sahur khususnya diakhir waktu akan lebih dapat menjaga sholat shubuh secara berjamaah daripada orang yang tidak sahur.

Keutamaan-Keutamaan Sahur,

1. Dalam Sahur Terdapat Berkah

   عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً » .

"Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu ia berkata: Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda: "Bersahurlah karena dalam sahur itu mengandung berkah." (HR. Bukhari No 1789)

2. Allah Ta'ala dan para malaikat bershalawat terhadap orang-orang yang melakukan sahur.

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى المُتَسَحِّرِينَ ». 

"Dari Abu Said At-Khudri ia berkata: "Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda: "Makan sahur itu barokah, maka janganlah engkau meninggalkannya meskipun salah seorang diantara kalian hanya bisa meneguk seteguk air, karena sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang melakukan sahur." (HR. Ahmad No 10664, sanadnya hasan)

3. Makanan Yang Paling Utama Ketika Sahur

Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ ».

"Dari Abu Hurairah Radliyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam beliau bersabda: "Sebaik-baik makan sahur orang yang beriman adalah kurma." (HR. Abu Daud No 2345, shahih)

4. Disunnahkan Mengakhirkan Sahur

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ - رضى الله عنه - قَالَ تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلاَةِ. قُلْتُ كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا قَالَ خَمْسِينَ آيَةً

"Dari Zaid bin Tsabit Radyillahu 'anhu ia berkata: "Kami melakukan sahur bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam kemudian beliau bangkit untuk melaksanakan sholat (shubuh). Saya bertanya: "Berapa jarak antara adzan dengan sahur?" Beliau menjawab: "Sekitar (bacaan Al-Qur'an) 50 ayat." (HR. Bukhari No 1787 dan Muslim No 1098)

Bahkan bagi orang yang mendengar adzan subuh sedangkan ditangannya masih tersisa makanan, boleh baginya menghabiskannya, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِىَ حَاجَتَهُ مِنْهُ ».

"Dari Abu Hurairah ia berkata: "Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda: "Jika salah seorang diantara kalian mendengar adzan sedangkan bejana berada ditangannya maka janganlah ia meletakkannya sehingga menyelesaikan hajatnya." (HR. Abu Dawud No 2350, Al-Hakim I/426 dan dishahihkan oleh Syeikh Albani dalam Shahih Jami ' Ash-Shaghir No 609)

Wallahu A'lam bish showab.

Abu Shofwan Ar Rasyid,

Seputar Berbuka Puasa

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Alhamdulillahi robbil 'aalamin...

Puji Syukur ke Hadirat Allah SWT dan junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Sekarang kita membahas apa-apa yang dilakukan di waktu berbuka puasa.

1. Waktu Berbuka Puasa

Apabila matahari telah tenggelam maka tibalah waktu berbuka puasa. Berdasarkan firman Allah Ta'ala:

"Kemudian sempurnakan puasa hingga malam hari." (Surat Al-Baqarah : 187)

Dan juga sabda Rosulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam:

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا ، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا ، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ ، فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ 

"Apabila malam telah tiba, siangpun telah berlalu dan matahari telah tenggelam, maka tibalah waktu berbuka bagi orang yang berpuasa." (HR. Bukhari No 1818)

2. Menyegerakan Berbuka Dan Manfaatnya 

Disunnahkan menyegerakan berbuka apabila telah masuk waktunya. Adapun manfaat-manfaatnya sebagai berikut:

a. Umat Islam Akan Senantiasa Dalam Kebaikan

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ » 

"Dari Sahal bin Saad bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda: "Senantiasa ummat ini berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka." (HR. Muslim No 1821)

b. Menyegerakan Berbuka Merupakan Bentuk Penyelisihan Terhadap Kaum Yahudi dan Nasrani Sebab Mereka Itu Suka Mengakhirkan Berbuka. Sementara Menyelisihi Mereka Merupakan Kewajiban Kaum Muslimin.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ عَجِّلُوا الْفِطْرَ فَإِنَّ الْيَهُودَ يُؤَخِّرُونَ ».

"Dari Abu Hurairah, ia berkata: "Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda: "Senantiasa umat ini berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka. Maka segerakanlah berbuka karena sesungguhnya orang-orang Yahudi itu mengakhirkan buka mereka." (HR. Ibnu Majah No 1698)

3. Makanan Utama Dalam Berbuka

Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ.

"Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam berbuka sebelum sholat dengan ruthab (kurma segar) dan apabila beliau tidak menjumpai kurma segar maka beliau berbuka dengan kurma kering dan apabila tidak ada kurma kering maka beliau meminum air." (HR. Abu Daud No 2356 dan Tirmidzi No 692, sanadnya hasan)

4. Do'a Ketika Berbuka

Doa buka puasa yang shahih yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ 

"Semoga hilang rasa dahaga, dan basah kembali urat-urat dan insya allah mendapat pahala (disisi-Nya)." (HR. Abu Daud No 2357, sanadnya hasan)

5. Memberi Makan Orang Yang Berpuasa

Dalam riwayat yang shahih disebutkan:

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا »

"Dari Zaid bin Khalid Al Juhani ia berkata: "Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda: "Barang siapa memberi hidangan berbuka bagi orang yang berpuasa maka baginya pahala semisal pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun." (HR. Ahmad IV/114, Tirmidzi No 807, lbnu Majah No 1746 dan Ibnu Hibban No 895, sanadnya shahih)

Semoga kita bisa menyempurnakan ibadah puasa kita dengan mengamalkan adab adab yang dituntunkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada kita.

Abu Shofwan Ar Rasyid,

Hal-hal yang Boleh Dilakukan Saat Berpuasa

Bismillah..

Wahai kaum muslimin,
Terdapat banyak poin yang jika dilakukan saat berpuasa, tidak membatalkan puasanya.

Apakah itu?
Yaitu,

1.  Masuk Waktu Shubuh Dalam Keadaan Junub

Tatkala waktu shubuh datang dibulan Ramadhan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam masih dalam keadaan junub, lantas beliau mandi dan berpuasa, seperti yang dituturkan oleh 'Aisyah dan Ummi Salamah:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ 

"Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam diwaktu shubuh dalam keadaan junub lantaran (malam harinya) menggauli istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa." (HR. Bukhari No 1791)

2.  Bersiwak/Menggosok Gigi.

Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda: 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى - أَوْ عَلَى النَّاسِ - لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلاَةٍ » 

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda: "Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan perintahkan mereka agar bersiwak setiap kali akan sholat." (HR. Bukhari No 838 dan Muslim No 25)

Karena tidak ada dalil yang melarang bersiwak ketika sedang berpuasa maka hadits tentang keutamaan siwak ini berlaku umum baik bagi orang yang berpuasa maupun orang yang tidak berpuasa. Demikian pendapat Imam Bukhari dan Imam Ibnu Khuzaimah. (Fathul Bari IV/158)

3.  Berkumur Dan Menghirup Air Kedalam Hidung

Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda:

بَالِغْ فِى الاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ صَائِمًا 

"Bersungguh-sungguhlah dalam ber-istinsyaq (memasukkan air kedalam hidung) kecuali apabila engkau berpuasa." (HR. Abu Dawud No 2366, sanadnya shahih)

4.  Mencium Istri Dan Mendekapnya Bagi Yang Mampu Menahan Syahwatnya

'Aisyah Radhiyallahu 'anha berkata:

كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ ، وَهُوَ صَائِمٌ ، وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لإِرْبِهِ 

"Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam mencium dan memeluk dalam keadaan berpuasa, tetapi dia adalah yang paling mampu menahan syahwatnya." (HR. Bukhari No 1792 dan Muslim No 1106)

5.  Suntik Yang Tidak Berfungsi Sebagai Pengganti Makanan

Suntikan apabila tidak sebagai pengganti makanan maka tidak membatalkan puasa. Sebaliknya, jika sebagai pengganti makanan, maka membatalkan puasa. Hal ini sebagaimana penjelasan sebagian ulama' seperti Syaikh Muhammad bin Utsaimin dalam kitabnya Majalisu Syahri Ramadhan hal 161.

6⃣  Berbekam

Pada awalnya berbekam merupakan salah satu pembatal puasa berdasarkan riwayat:

عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ »

"Dari Tsauban dari Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam beliau bersabda: "Telah berbuka (batal puasa) orang yang membekam dan dibekam." (HR. Abu Daud No 2367, sanadnya shahih)

Namun kemudian hadits ini dimansukh oleh riwayat lain yang menyatakan bahwa beliau Shallallahu 'alaihi Wasallam berbekam dalam keadaan puasa. 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رضى الله عنهما - أَنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - احْتَجَمَ ، وَهْوَ مُحْرِمٌ وَاحْتَجَمَ وَهْوَ صَائِمٌ

"Dari Ibnu Abbas Radliyallahu 'anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam berbekam ketika sedang ihram dan beliau juga berbekam ketika sedang berpuasa." (HR. Bukhari No 1938)

Demikian pula Anas bin Malik, beliau juga berbekam dalam keadaan berpuasa. (HR. Daaruqutni dan Baihaqi)

7. Mencicipi Makanan

Ibnu Abbas Radliyallahu 'anhuma berkata: "Tidak mengapa bagi orang berpuasa mencicipi cuka atau yang lainnya selagi tidak tertelan." (Hadits hasan Riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Thabrani, Lihat Irwaaul Gholil IV/86)

8⃣  Bercelak

Iman Bukhari berkata dalam Shahihnya: "Anas, Hasan Al Bashri,dan Ibrahim An Nakha'i berpendapat bahwa bercelak tidak dapat membatalkan puasa seseorang."

Pendapat ini didukung pula oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim.

9.  Menuangkan Air Ke Kepala Dan Mandi

Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam pernah menuangkan air pada kepalanya dalam keadaan puasa karena haus dan panas. (HR. Abu Daud No 2348, sanadnya shahih)

Hal ini juga dilakukan sahabat Ibnu Umar, As Sya'bi dan Hasan Bashri (Lihat Shahih Bukhari)

Demikianlah beberapa perkara yang dibolehkan bagi orang yang berpuasa, semoga dapat menjadi  tambahan ilmu bagi kita sehingga kita tidak ragu ragu lagi tentang hukum beberapa perkara di atas yang kita kerap mengalaminya.

Abu Shofwan Ar Rasyid,

Saturday, July 11, 2015

Dibolehkan Shalat Tarawih Sendirian?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (beribadah di malam ramadhan) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari 37 dan Muslim 759)

Dan para ulama menjelaskan, bahwa shalat tarawih termasuk qiyam ramadhan, mengisi malam ramadhan dengan ibadah. NabiShallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan janji yang besar, berupa ampunan dosa. Karena itulah, shalat tarawih termasuk shalat sunah muakkad (shalat sunah yang sangat ditekankan).

Boleh Dikerjakan Sendirian

Para ulama menegaskan bahwa shalat tarawih boleh dikerjakan sendirian. Karena bukan syarat sahnya shalat tarawih, harus dikerjakan berjamaah.

An-Nawawi mengatakan,

صلاة التراويح سنة باجماع العلماء … وتجوز منفردا وجماعة

Shalat tarawih adalah sunah dengan sepakat ulama… boleh dikerjakan sendirian atau berjamaah. (al-Majmu, 4/31).

Lebih Utama Berjamaah ataukah Sendirian?

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi agar shalat tarawih dikerjakan berjamaah.

Dalam hadis dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamshalat hingga pertengahan malam, sebagian sahabat minta agar beliau memperlama hingga akhir malam. Kemudian beliau menyebutkan keutamaan shalat tarawih berjamaah,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ، فَإِنَّهُ يَعْدِلُ قِيَامَ لَيْلَةٍ

“Barangsiapa yang shalat tarawih berjamaah bersama imam hingga selesai, maka dia mendapat pahala shalat tahajud semalam suntuk.” (HR. Nasai 1605, Ibn Majah 1327 dan dishahihkan Al-Albani).

Allahu akbar, shalat tarawih berjamaah bersama imama sampai selesai, pahalanya seperti shalat semalam suntuk. Yang itu hampir tidak mungkin pernah kita kerjakan.

Karena itulah, mayoritas ulama mengatakan, lebih utama mengerjakan shalat tarawih secara berjamaah.

Kita simak penjelasan as-Syaukani dalamNailul Authar,

واختلفوا في أن الأفضل صلاتها في بيته منفردا أم في جماعة في المسجد فقال الشافعي وجمهور أصحابه وأبو حنيفة وأحمد وبعض المالكية وغيرهم : الأفضل صلاتها جماعة كما فعله عمر بن الخطاب والصحابة رضي الله عنهم واستمر عمل المسلمين عليه لأنه من الشعائر الظاهرة

Ulama berbeda pendapat, mana yang afdhal, shalat tarawih sendirian ataukah berjamaah di masjid. As-Syafii dan mayoritas ulama madzhabnya, Abu Hanifah, Ahmad, sebagian Malikiyah dan yang lainnya berpendapat, yang lebih afdhal dikerjakan berjamaah. Sebagaimana yang dikerjakan Umar bin Khatab dan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Dan itu turun-temurun dipraktekkan kaum muslimin. Karena termasuk bagian dari syiar yang lahir.

Kemudian as-Syaukani menyebutkan pendapat kedua,

وقال مالك وأبو يوسف وبعض الشافعية وغيرهم : الأفضل فرادى في البيت لقوله صلى الله عليه وآله وسلم : أفضل الصلاة صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة

Sementara Imam Malik, Abu Yusuf, sebagian syafiiyah, serta ulama lainnya berpendapat, shalat tarawih sendirian di rumah lebih utama. Berdasarkan hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalat yang paling utama adalah shalat yang dikerjakan seseorang di rumahnya, kecuali shalat wajib.” (Nailul Authar, 3/59).

Dan kita bisa menilai, pendapat mayoritas ulama lebih kuat dalam hal ini. Mengingat adanya motivasi khusus dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengerjakannya berjamaah di masjid.

Dalam Kondisi Ini, Sendirian Lebih Utama

Di beberapa beberapa tempat di indonesia, ada masjid yang shalat tarawihnya sangat ngebut. Mungkin karena mengerjar target jumlah rakaat yang banyak. Yang unik, di rakaat kedua selalu membaca surat al-ikhlas. Rukuk, itidal, sujud dan duduk diantara dua sujud, sering jadi korban. Karena dikerjakan tidak thumakninah.

Suatu ketika, Rasulullah melihat orang shalat yang tidak menyempurnakan rukuknya dan seperti mematuk ketika sujud. Kemudian beliau bersabda,

أَتَرَوْنَ هَذَا، مَنْ مَاتَ عَلَى هَذَا مَاتَ عَلَى غَيْرِ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ، يَنْقُرُ صَلَاتَهُ كَمَا يَنْقُرُ الْغُرَابُ الدَّمَ

“Tahukah kamu orang ini. Siapa yang meninggal dengan keadaan (shalatnya) seperti ini maka dia mati di atas selain agama Muhammad. Dia mematuk dalam shalatnya sebagaimana burung gagak mematuk darah.” (HR. Ibnu Khuzaimah 665 dan dihasankan al-Albani).

Jika anda menjumpai masjid semacam ini, sebaiknya ditinggalkan, bisa mencari masjid yang lain atau shalat sendiri di rumah. Dari pada anda tarawih dengan model shalat yang sangat tidak berkualitas.

Kesimpulan dari keterangan di atas,

Shalat tarawih boleh dikerjakan di rumah atau di selain masjid, baik sendirian atau berjamaah bersama keluarga.Jika memungkinkan, shalat tarawih dikerjakan berjamaah bersama imam masjid, lebih utama. Karena bernilai pahala seperti shalat semalam suntukJika pelaksanaan shalat tarawih di masjid sekitar kita tidak berkualitas, dan tidak ada pilihan majid lain, maka sebaiknya shalat tarawih di rumah sendirian atau bersama keluarga, dengan berusaha menjaga kualitas shalat

Allahu a’lam.

Diambil dari : Konsultasisyariah.com

Thursday, July 9, 2015

Malam Lailatul Qadar, Kemuliaan dan Tandanya


Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan ini, ada sebuah malam yang sangat mulia yaitu Lailatul Qadar atau disebut Malam Qadar. Banyak sekali kemuliaan-kemuliannya,
yaitu,

Pertama, Waktu Diturunkan Al-Quran

Lailatul Qadar menunjukkan keistimewaan kerana pada malam inilah Allah سبحانه وتعالى menurunkan kitab suci utama iaitu Al-Quranul Karim.

Ibnu ‘Abbas dan selainnya mengatakan, 
“Allah menurunkan Al-Quran secara keseluruhan sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul’ Izzahyang ada di langit dunia. Kemudian Allah menurunkan Al-Quran kepada Rasulullah ﷺ tersebut secara beransur-ansur sesuai dengan peristiwa dan kejadian yang berlaku sepanjang 23 tahun.”


Kedua, Lebih Baik Dari 1000 Bulan

Keutamaan Lailatul Qadar sungguh luar biasa kerana malam ini lebih baik dari 1000 bulan dan bersamaan dengan 83 tahun.
Allah سبحانه وتعالى berfirman;
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam Lailatul-Qadar (Malam Kemuliaan) itu lebih baik dari seribu bulan.”
(Al-Qadr : 3)
.
An Nakha’I dalam ‘Latha-if Al Ma’arif’ menyatakan, 
“Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” Mujahid, Qotadah dan ulama lainnya berpendapat bahawa yang dimaksudkan dengan lebih baik dari seribu bulan adalah solat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari solat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar. (Zaadul Masiir).


Ketiga, Malam Penuh Keberkatan
.
Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keberkatan berdasarkan firman Allah سبحانه وتعالى,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.”
(Ad-Dukhan : 3)

‘Malam penuh berkat’ ini adalah malam ‘Lailatul Qadar’ dan ini juga menunjukkan keistimewaan malam tersebut. Ramai malaikat yang akan turun pada Lailatul Qadar kerana banyaknya keberkatan pada malam tersebut dan turunnya malaikat menandakan melimpahnya berkat dan rahmat.


Keempat, Turunnya Jibril Dan Para Malaikat
.
Keistimewaan Lailatul Qadar diiringi juga dengan turunnya para malaikat yang diketuai oleh ‘Ar Ruuh’ iaitu malaikat Jibril pada malam al-Qadr dalam suatu angkatan yang besar, penuh gilang-gemilang untuk memberi taufik dan hidayah kepada orang berpuasa dengan seikhlas hati.
Allah سبحانه وتعالى berfirman,

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم

“Pada Malam itu, turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka.”
(Al-Qadr : 4)

Keistimewaan ‘Ar Ruuh’ atau Malaikat Jibril yang disebut dalam ayat di atas adalah bagi menunjukkan kemuliaan (keutamaan) malaikat tersebut.
Sebagaimana malaikat turun ketika ada yang membacakan Al-Quran, mereka juga akan mengelilingi orang-orang yang berada dalam majlis zikir dan majlis ilmu. Para malaikat akan meletakkan sayap-sayap mereka pada penuntut ilmu kerana malaikat sangat mengagungkan mereka.

Kelima, Malam Kesejahteraan

Lailatul Qadar disifatkan sebagai keutamaan luar biasa dan kesejahteraan kerana pada malam itu malaikat turun untuk mengucapkan “Salam Sejahtera” kepada seluruh penduduk bumi.
Firman Allah سبحانه وتعالى;
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر

“Sejahteralah Malam (yang penuh berkat) itu hingga terbit fajar”
(Al-Qadr : 5)
.
Mujahid menyatakan, 
“Malam tersebut penuh keselamatan di mana syaitan tidak dapat berbuat apa-apa di malam tersebut, baik berbuat buruk atau mengganggu yang lain.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim). 

Juga boleh membawa makna bahawa malam tersebut, banyak yang terselamat dari hukuman dan seksaan kerana mereka melakukan ketaatan pada Allah سبحانه وتعالى (pada malam tersebut).


Keenam, Dicatatkan Takdir Sanawi ( Tahunan )
.
Lailatul Qadar adalah malam penulisan dan dicatatkan takdir tahunan. Imam Nawawi rahimahullah dalam ‘Syarh Muslim’ bahawa catatan takdir tahunan tersebut tentu saja didahului oleh ilmu dan penulisan Allah سبحانه وتعالى. Takdir ini nantinya akan diperlihatkan kepada malaikat dan ia akan mengetahui yang akan terjadi dan mereka akan melaksanakan tugas yang diperintahkan untuknya.
.
Allah سبحانه وتعالى berfirman,
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”
(Ad Dukhan : 4)
.
Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menerangkan bahawa pada Lailatul Qadar akan diperhalusi di Lauhul Mahfuzh mengenai penulisan takdir dalam setahun, juga akan dicatat ajal maut dan rezeki. Dan turut juga akan dicatat segala sesuatu hingga akhir dalam setahun. Demikian juga diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar, Abu Malik, Mujahid, Adh Dhahhak dan ulama salaf lainnya.

Allah سبحانه وتعالى berfirman,
يَمْحُوا۟ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلْكِتَٰبِ

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Umulkitabz
(Ar-Ra'd : 39)

Ketujuh, Dosa Diampunkan

Dosa setiap orang yang menghidupkan malam‘Lailatul Qadar’ akan diampunkan oleh Allah سبحانه وتعالى.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Sesiapa melaksanakan solat pada malam lailatul qadar kerana iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampunkan
(Hadis Riwayat Bukhari r.a.)
.
Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan bahawa yang dimaksudkan ‘iimaanan’ (kerana iman) adalah membenarkan janji Allah سبحانه وتعالى iaitu pahala yang diberikan kepada orang yang menghidupkan malam tersebut. Manakala‘ihtisaaban’ bermakna mengharap pahala dari sisi Allah سبحانه وتعالى, bukan kerana mengharap selainnya seperti berbuat riyak. (Fathul Bari)

‘Lailatul Qadar’ juga dikenali dengan nama‘Lailatul Syaraf’ bermaksud malam kemuliaan atau ‘Lailatul Tajalli’ yang bermakna malam Allah سبحانه وتعالى melimpahkan cahaya dan hidayahNya kepada orang berpuasa dan beribadat pada sebelah malamnya.Orang yang beribadah sepanjang tahun tentu lebih cerah dan mudah mendapatkan 7 keistimewaan dan kemuliaan malam tersebut kerana ibadahnya bersifat kekal, tetap, ikhlas dan konsisten berbanding dengan orang yang beribadah jarang-jarang.
“Ya Allah! Mudahkanlah bagi kami meraih keistimewaan Lailatul Qadar di hari-hari terakhir bulan Ramadhan tahun ini dengan kami berupaya mengisinya dengan seikhlas hati bersolat, berzikir dan beramal soleh tanpa rasa mengantuk.”
Aaminnn Yaa Rabbal Alamin…

Dan diantara kita mungkin pernah mendengar tanda-tanda malam lailatul qadar yang telah tersebar di masyarakat luas. Sebagian kaum muslimin awam memiliki beragam khurofat dan keyakinan bathil
seputar tanda-tanda lailatul qadar, diantaranya: pohon sujud, bangunan-bangunan tidur, air tawar berubah asin, anjing-anjing tidak menggonggong, dan beberapa tanda yang jelas bathil dan rusak.

Maka dalam masalah ini keyakinan tersebut tidak boleh diyakini kecuali berdasarkan atas dalil, sedangkan tanda-tanda di atas sudah jelas kebathilannya karena tidak adanya dalil baik dari al-Quran ataupun hadist yang mendukungnya.

Lalu bagaimanakah tanda-tanda yang benar berkenaan dengan malam yang mulia ini ? Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah mengabarkan kita di beberapa sabda beliau tentang tanda-tandanya, yaitu:

1. Udara dan suasana pagi yang tenang

Ibnu Abbas radliyallahu’anhu berkata, 
Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadist hasan)

2. Cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat keesokannya

Dari Ubay bin Ka’ab radliyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan” (HR Muslim)

3. Terkadang terbawa dalam mimpi

Seperti yang terkadang dialami oleh sebagian sahabat Nabi
 radliyallahu’anhum

4. Bulan nampak separuh bulatan

Abu Hurairoh radliyallahu’anhu pernah bertutur,
Kami pernah berdiskusi tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, beliau berkata,
“Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan.” (HR. Muslim)

5. Malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)

Sebagaimana sebuah hadits, dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:
“Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)” (HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan)

6. Orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan lezatnya ibadah, ketenangan hati dan kenikmatan bermunajat kepada Rabb-nya tidak seperti malam-malam lainnya.

والله أعلم بالصواب
Wallahu A’lam Bish Shawab
 (Hanya Allah Maha Mengetahui apa yang benar)

(*Topik Islam, topik-islam.blogspot.com)

Sunday, June 7, 2015

Kemuliaan Bulan Ramadhan dan Puasa Ramadhan


Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,


Ramadhan adalah bulan penuh kemuliaan dan keutamaan. Sebab di dalamnya segenap amalan kita dilipatgandakan pahalanya disisi Allah. Sehingga menjadikan ramadhan sebagai bulan yang penuh berkah, patut diupayakan oleh setiap muslim yang beriman. Sehingga kemuliaan bulan ramadhan bisa kita capai dengan sempurna.

Menggapai kemuliaan ramadhan bisa dilakukan dengan berbagai cara, dari mulai beriktikaf di siang hari tatkala puasa, berbagi rizki dengan menyediakan takjil bagi orang yang berpuasa ataupun dengan memenuhi malah di bulan ramadhan dengan amalan-amalan mulia dengan memperbanyak tahlil, tahmid dan amalan-amalan yang ditujukan untuk mengagungkan Allah subhanahu wata'ala.

Oleh karenanya kita sebagai umat muslim sudah seharusnya tidak melewatkan kemuliaan bulan ramadhan dengan kegiatan yang sia-sia, agar lebih termotivasi menjalani bulan puasa dan lebih memahami makna bulan ramadhan itu sendiri, mari kita ketahui bersama apa saja kemuliaan bulan Ramadhan, bulan penuh berkah.

Di antara sedikit kemuliaan bulan ramadhan adalah sebagai berikut :

1. Bulan Diturunkannya Al-Quran
Bulan Ramadhan merupakan bulan dimana kitab suci umat Islam (Al-Qur’an) pertamakali diturunkan. 

“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).”
(Al-Baqarah : 185)

2. Amal Sholeh Yang Berlipat Ganda
Sebagai umat Islam yang menjalankan amalan sholeh dan kewajiban seorang muslim pada bulan ramadhan akan mendapatkan balasan berlipat ganda, sampai sebagai 70 kali lipat.

"Khutbah Rasululah saw pada akhir bulan Sya`ban “Hai manusia, bulan yang agung, bulan yang penuh berkah telah menaung. Bulan yang didalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang padanya Allah mewajibkan berpuasa. Qiyamullail disunnahkan. Barang siapa yang pada bulan itu mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan perbuatan yang diwajibkan pada bulan lainnya. Dan barang siapa yang melakukan suatu kewajiban pada bulan itu,nilainya sama dengan tujuh puluh kali lipat dari kewajiban yang dilakukannya pada bulan lainnya. Keutamaan sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan." (HR. Bukhori dan Muslim).

3. Bulan Pernuh Keberkahan
Pada bulan puasa seorang muslim berkesempatan untuk kembali ke jalan yang baik dan mendapat keberkahan yang nilainya sama dengan seribu bulan. Maka bila seorang muslim pada bulan puasa saja tidak juga memanfaatkan kesempatannya, bulan lain kemungkinan akan lebih buruk lagi.

“Sesungguhnya telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan kamu berpuasa, karena dibuka pintu- pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu syaitan- syaitan, serta akan dijumpai suatu malam yang nilainya lebih berharga dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak berhasil memperoleh kebaikannya, sungguh tiadalah ia akan mendapatkan itu untuk selama-lamanya.” (HR Ahmad, An-Nasa’l, dan Baihaqi).

4. Ramadhan Bulan Pengampunan Dosa
Pada bulan Ramadhan juga seorang muslim berkesempatan untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya, bahkan ibadah yang sempurna pada bulan puasa akan menjadikan seorang muslim suci kembali bagaikan bayi yang baru lahir.

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhori)
“Shalat yang lima waktu, dari jumat ke jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan, merupakan penghapus dosa di antara mereka, jika dia menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)

5. Setan-setan Dibelenggu, Pintu-pintu Neraka Ditutup dan Pintu-pintu Surga Dibuka Ketika Ramadhan Tiba

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” (HR. Muslim)
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan,”Pintu-pintu surga dibuka pada bulan ini karena banyaknya amal saleh dikerjakan sekaligus untuk memotivasi umat islam untuk melakukan kebaikan. Pintu-pintu neraka ditutup karena sedikitnya maksiat yang dilakukan oleh orang yang beriman. Setan-setan diikat kemudian dibelenggu, tidak dibiarkan lepas seperti di bulan selain Ramadhan.” (Majalis Syahri Ramadhan, hal. 4, Wazarotul Suunil Islamiyyah)

6. Bulan yang Mendidik untuk Mencapai Ketaqwaan
Menahan haus, lapar dan amarah merupakan jalan menuju sifat-sifat sabar yang taqwa. Itulah mengapa berpuasa sebulan penuh pada Ramadhan dapat membimbing umat Islam mencapai ketawaan.

“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” 
(QS. Al Baqarah : 183)

7. Terdapat Malam yang Penuh Kemuliaan dan Keberkahan

Pada bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan). Pada malam inilah -yaitu 10 hari terakhir di bulan Ramadhan- saat diturunkannya Al Qur’anul Karim.
Allah ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ – وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ – لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr [97] : 1-3)

Dan Allah ta’ala juga berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhan [44] : 3)

Ibnu Abbas, Qotadah dan  Mujahid mengatakan bahwa malam yang diberkahi tersebut adalah malam lailatul qadar. (Lihat Ruhul Ma’ani, 18/423, Syihabuddin Al Alusi)

8. Bulan Ramadhan adalah Salah Satu Waktu Dikabulkannya Doa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

“Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.” (HR. Al Bazaar sebagaimana dalam Mujma’ul Zawaid dan Al Haytsami mengatakan periwayatnya tsiqoh/terpercaya. Lihat Jami’ul Ahadits, Imam Suyuthi)

Sedangkan kemuliaan puasa ramadhan di antaranya sebagai berikut,

1. Puasa adalah Perisai 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ

“Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari api neraka.” (HR. Ahmad dan Baihaqi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’)

2. Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Pahala yang Tak Terhingga
3. Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Dua Kebahagiaan
4. Bau Mulut Orang yang Bepuasa Lebih Harum di Hadapan Allah daripada Bau Misik/Kasturi
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى ، وَأَنَا أَجْزِى بِهِ . وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى امْرُؤٌ صَائِمٌ . وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ ، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ ، وَإِذَا لَقِىَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

“Allah berfirman,’Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor, jangan pula berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencaci dan mengajak berkelahi maka katakanlah,’Saya sedang berpuasa’. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat daripada bau misk/kasturi. Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, ketika berbuka mereka bergembira dengan bukanya dan ketika bertemu Allah mereka bergembira karena puasanya’. “ (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Puasa akan Memberikan Syafaat bagi Orang yang Menjalankannya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

“Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Puasa akan berkata,’Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat, karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafaat kepadanya’. Dan Al-Qur’an pula berkata,’Saya telah melarangnya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya.’ Beliau bersabda, ‘Maka syafaat keduanya diperkenankan." (HR. Ahmad, Hakim, Thabrani, periwayatnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Al Haytsami dalam Mujma’ul Zawaid)

6. Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Pengampunan Dosa
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim)

7. Bagi Orang yang Berpuasa akan Disediakan Pintu Ar Rayyan
Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama  Ar-Royyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka,’Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut”.(HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga pembahasan di atas dapat mendorong kita agar lebih bersemangat untuk mendapatkan keutamaan berpuasa di bulan Ramadhan dengan cara menghiasi hari-hari di bulan yang penuh berkah tersebut dengan amal saleh yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya yang mulia.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.