Friday, July 17, 2015

Bahaya Cinta Dunia dan Akibatnya


Allah Azza wa Jalla berfirman,
Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia ini tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah yang telah mereka kerjakan. 

(QS. Hud: 15-16).

Rasulullah SAW menggambarkan kondisi umat Islam seperti hidangan yang "siap santap" dan dikerumuni oleh musuh-musuh Islam. 

Rasulullah SAW bersabda,
Suatu saat nanti kalian akan dikerumuni (dijarah beramai-ramai) oleh umat-umat manusia layaknya hidangan yang dikerumuni orang kelaparan". Sahabat bertanya, "Apakah karena jumlah kami sedikit, ya Rasulullah?" "Bahkan jumlah kalian banyak pada hari itu, akan tetapi banyaknya kalian seperti buih, maka Allah cabut dari hati musuh-musuh kalian perasaan takut terhadap kalian, dan diletakkan dalam hatimu penyakit al-wahn", jawab Rasulullah SAW. "Apakah penyakit al-wahn itu ya Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Cinta dunia dan takut mati.
Bahaya Cinta Dunia,

1. Sumber segala kesalahan

Imam Ahmad menceritakan dari Imam Sofyan, bahwa beliau berkata, 

Isa bin Maryam as berkata, "Cinta dunia itu sumber segala kesalahan dan di dalam harta benda terdapat banyak penyakit. Para sahabat bertanya, "Apa penyakitnya?" Beliau menjawab, "Orang yang cinta dunia tidak dapat meninggalkan sifat bangga dan angkuh". "Kalau dia bisa menghindari sifat tersebut?" tanya mereka. "Dia akan sibuk mengurus dan meningkatkannya hingga lalai dari dzikir kepada Allah Azza wa Jalla", jawab Beliau.
2. Lalai dari cinta dan dzikrullah adalah bahaya terendah dari cinta dunia

Karena barangsiapa dilalaikan oleh harta bendanya, dia akan merugi. Terlebih bila lalai dari dzikrullah, ia akan hanya seperti mayat. Bila hati sepi dari dzikir ia akan dihuni dan disetir setan sesuai kehendaknya. Dalam sebuah riwayat menyebutkan bahwa iblis berkata, 
Jika seorang manusia telah dikuasai (hatinya) dan menjadi lemah, maka kami akan membolak-balikan hatinya bagaikan seorang anak kecil mempermainkan bola.
3. Menjadi penghuni neraka

Cinta dunia menjadikan neraka dipenuhi orang, sedangkan sikap zuhud terhadap dunia memuatnya ramai surga.

4. Mabuk karena cinta dunia lebih berbahaya daripada karena minuman keras

Karena orang yang mabuk karena cinta dunia tidak akan sadar kecuali setelah berada di dalam kubur. 
Yahya bin Mu'adz berkata, 
Dunia itu araknya setan. Barang siapa mabuk karenanya, ia tidak akan segera sadar, kecuali setelah berada di tengah kumpulan orang mati dalam keadaan menyesal di antara orang-orang yang merugi.
5. Pengagungan berlebihan terhadap dunia

Cinta terhadap dunia menuntut manusia dipandang mengagungkan dan mementingkannya, sedangkan di mata Allah dunia itu rendah dan hina.
Mengagungkan sesuatu yang dipandang rendah oleh Allah termasuk dosa besar. 

Jabir bin Abdillah ra bekata, 
Rasulullah SAW pernah memasuki sebuah pasar yang di kiri-kanannya dipadati manusia. Ketika itu beliau melewati seekor kambing kuper (telinganya kecil) yang telah menjadi bangkai. Lantas Beliau menenteng telinga kambing itu seraya berseru, "Siapakah yang mau membeli kambing ini dengan harga satu dirham?" Pengunjung pasar menjawab, "Sedikitpun kami tidak menginginkannya". Beliau bertanya lagi, "Apakah kalian mau jika anak kambing ini kuberikan cuma-cuma kepada kalian?" Mereka menjawab, "Demi Allah, kalaupun anak kambing itu hidup, kami tidak akan menerimanya karena cacat, maka bagaimana kami mau menerimanya setelah menjadi bangkai?"Mendengar hal ini Rasulullah SAW bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya dunia itu lebih hina dalam pandangan Allah daripada bangkai kambing kuper ini dalam pandangan kalian
(HR. Muslim).

6. Mendapat kutukan Allah

Allah mengutuk, memurkai, dan membenci kecuali jika kehidupan dunia hanya ditujukan semata-mata untuk mencari keridhaan-Nya.

7. Mengubah orientasi amal shalih

Apabila seseorang mencintai dunia otomatis ia akan menjadikannya sebagai tujuan, sehingga amal-amal shalihpun yang dijadikan Allah sebagai jembatan menuju keridhaan-Nya justru dijadikan untuk mencari kehidupan dunia. 

Sebagai misal, orang yang berdakwah atau mengerjakan amal shalih untuk mendapatkan amplop atau kedudukan dan kursi tertentu.

8. Penghambat amal shalih

Cinta dunia itu menjadi penghambat seseorang untuk beramal shalih, sebab disibukkan untuk mengurusi dunia sehingga waktunya habis tersita olehnya. Dalam hal ini manusia terbagi menjadi beberapa klasifikasi,

Ada yang sibuk dengan dunianya sehingga melalaikan keimanan dan syari'at-Nya.


Ada yang sangat cinta terhadap dunia sehingga melalaikan ibadah dan kewajiban.

Ada yang melaksanakan kewajiban tertentu dengan meninggalkan kewajiban yang lain.

Dia yang tidak melaksanakan kewajiban dan ibadah pada waktu yang telah ditentukan.

Ada yang melakukan ibadah tapi hanya lahirnya sedangkan hatinya selalu ingat pada urusan duniawi.

Akibatnya Jika Mencintai Dunia,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan hal ini dalam sabda beliau, 
Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang penuh berisi) harta/emas maka dia pasti akan menginginkan lembah (harta) yang ketiga.
[HR Al-Bukhari (no. 6075) dan Muslim (no. 116)]

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata, 
Orang yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (kerusakan dan penderitaan), Kekalutan (pikiran) yang tidak pernah hilang, keletihan yang berkepanjangan dan penyesalan yang tiada akhirnya.
[Kitab “Igaatsatul lahfan” (halaman 83-84, Mawaaridul amaan)]

Dalam hal ini, salah seorang ulama salaf berkata, 
Barangsiapa yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) maka hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam penderitaan.
[Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Igaatsatul lahfan” (halaman 83 – Mawaaridul amaan)] 

Sekian, semoga kita tidak termasuk orang yang cinta dunia. Dan InsyaAllah kami akan membahas tentang tanda -tandanya jika terpaut oleh dunia di artikel berikutnya.
-----------------------
Dikutip dari : Ceramah Abu Izzuddin

0 comments:

Post a Comment